Pendakian Gunung Sindoro via Sigedang Tambi

November 01, 2022

Terbentur, terbentur, terbentur, terbentuk. Kalimat ini diucapkan oleh salah satu tokoh revolusioner Indonesia, Tan Malaka. Kalo saya, terbentur, terbentur, terbentur, lebam wkwk. Sabtu 29 Oktober 2022 masih dalam suasana Jogja musim hujan kami akan mencari pelangi dikedua matamu pehhh. Mendaki Gunung Sindoro lewat jalur Sigedang Tambi, yang katanya jalur tercepat menuju puncak Sindoro tapi juga paling berat. Basecamp Sigedang ini berada tepat ditepi jalan raya Tambi. Saya, Gettri, Hayan, dan Tiara berangkat dari Magelang pukul 14.30. Setelah mampir mengisi bensin dan melengkapi logistik kami melanjutkan perjalanan melewati Ngadirejo Temanggung. Jalur penuh kabut yang disertai gerimis, mengharuskan kami berhati-hati mengendarai motor. Pukul 17.00 kami sampai di basecamp Sigedang dan hujan turun. Wes gausah muncak ngopi ndek kene ae 😆 Setelah mempertimbangkan banyak hal, akhirnya kami memutuskan untuk sewa homestay naik pickup sampai pos 2 dengan biaya Rp. 150.000 sekali jalan. Sedangkan untuk biaya registrasi sebesar Rp. 25.000 (Oktober 2022) dan parkir setiap motor Rp. 10.000. 

Sabtu, 29 Oktober 2022

Basecamp - Pos 2 - Pos 3 (2 jam)

Usai maghrib, pickup sudah standby untuk mengantar kami ke pos 2. Lumayan untuk memangkas jarak 262 meter dengan jalur full kebun teh. Sekitar 30 menit ngetril with pickup dalam kondisi dark jokes gelap, kami sampai di Pos 2 dengan ketinggian 2127 mdpl. Bapak sopir pickup berpamitan dan kami ingin ikut 🥺 Jalur selanjutnya, 5 meter dari pos 2 terdapat jalan menyusuri kebun teh. Diawal masuk saya sudah kepleset wkwk. Keluar dari kebun teh pertama kami kembali bertemu jalan makadam. 3 meter ke arah kanan ada plang bertuliskan puncak dan kami menyusuri kebun teh kedua.  Jalur kebun teh ini super licin apalagi kalo hujan, beuuuh muntir wes. Sekitar 17 menit berjalan, kami sampai di pintu rimba bernama patok besi yang merupakan batas antara hutan dan ladang. Adventure dimulai, boom 💥

Pintu rimba 

Pukul 19.10 kami melanjutkan perjalanan, kata petugas basecamp estimasi dari pos 2 sampai area camp 2 jam. Awas kon mbujuk 🤣 canda mas ✌️ jalur setelah memasuki hutan ini terdiri dari vegetasi pepohonan yang tidak terlalu rapat. Untuk tanjakan, wes gausah berharap landai. Full nanjak dari awal sampai puncak nanti. Kami menemui beberapa pohon tumbang. Sesekali, kami berhenti untuk menghela nafas dan makan camilan. Vegetasi berikutnya mulai berubah, banyak terdapat pohon lamtoro yang kalo terkena terpaan angin dan batangnya bergesekan satu sama lain akan menimbulkan suara, jadi itu bukan hantu ya teman-teman, bisa dijelaskan dari mana sumber suaranya ❤️‍🔥 lama berjalan, jalur mulai bercampur dengan bebatuan. Iki sopo sek ngusungi watu tekan kene seh 🤯 pukul 20.16 kami sampai di pos 3 bernama watu tulis dengan ketinggian  2470 mdpl. Di pos 3 ini tidak terdapat area camp, kami lanjut keatas mencari tempat untuk membuka jalur tenda.

Camp Area
Pos 3 - Camp Area (12 menit)

Lanjut dengan jalur yang semakin ugal-ugalan dan vegetasi mulai terbuka, ditambah tipe pepohonan seperti ini kurang kuat untuk melindungi dari terpaan angin. Tidak banyak yang mendaki pada hari itu, kami tidak bertemu satu rombongan pun saat berjalan. Sampai di camp area pukul 20.40 kami segera mendirikan tenda. Karena musuh kita malam ini adalah angin, bukan masa lalumu, wes angel. 

Minggu, 30 Oktober 2022

Camp Area - Pos 4 (42 menit)

Jam 06.00 pagi kami terbangun, tapi cuaca diluar kurang mendukung untuk berangkat summit pagi itu juga. Kami lanjut memasak dan ngenget jangan yang dibawakan oleh Budhenya Mba Tiara kemarin, makasih budhe 🙏 lemah-lemah teles soale bar udan. Loh eh 🤣 total ada 3 tenda yang berdiri di camp area ini. Setelah sarapan, kami berangkat summit pukul 08.10 bersama rombongan tenda sebelah. Untuk menuju pos 4 kami perlu melewati jalur yang bernama ladang batu 1. Ya memang jalurnya cukup batu 🪨 tapi masih bersahabat. Cuaca selepas area camp ini ternyata cerah 🤣 kalo memutuskan untuk  turun sayang sih 😅 sepanjang jalan dari sisi sebelah kiri atas terlihat tebing bernama watu congor petruk. Jam 08.52 sampailah kami di pos 4  dengan ketinggian 2773 mdpl. Di pos 4 ini tidak terdapat area camp. Satu-satunya tempat yang bisa digunakan untuk camp cuma dibawah tadi, karena kalo di sabana terlalu dekat dengan kawah. Jadi yowis teman-teman 🧘 kami beristirahat cukup lama di pos 4.

Pos 4 

Pos 4 - Ladang Batu II  (1 jam 15 menit)

Setelah cukup berfoto-foto ceria, kami lanjut berjalan. Tim tenda sebelah sudah mendahului kami. Kata mas basecamp waktu untuk sampai ke puncak hanya 2 jam saja. Hoax mas tibak e meh 3 jam aku 😅🤣 jalur yang kami lalui full berbatu, tidak ada celah untuk berjalan lucu 😪 usai pos 4 ini terdapat vegetasi semak belukar dengan kemiringan sekitar 60 derajat. Dari sini terlihat pegunungan Dieng dan kebun teh yang luas berada cukup jauh dari tempat kami berdiri. Mendekati ketinggian 3000 an meter, kami mulai menemukan pohon cantigi. Daun cantigi muda dan buahnya yang sudah matang bisa dimakan ygy. Saya mengambil beberapa daun untuk dimakan sepanjang jalan. Rasanya asem, kalo dia esem. Hah.  Lama berjalan, kami melihat tanda pos tapi belum terbaca. Setelah didekati kami sampai di Ladang Batu II. Saya pikir plang ini adalah tanda berakhirnya ladang batu. Ternyata baru dimulai 🤯

Ladang Batu II 

Ladang Batu II - Sabana (20 menit)

Diatas awan kita kan menang o o o 🐨 berteman lautan awan sebagai background perjalanan, kami menyusuri bebatuan yang cukup besar. Lossss, lakoni ae bek e lupa caranya mengeluh wkwk. Ternyata benar kata orang-orang, kalo Kledung itu jalurnya nanjak, kalo Sigedang ini nuanjaaaaak 😮‍💨 angin bertiup sangat kencang sampai awan bergerak seperti time lapse ☁️ saya berjalan diposisi seperti biasa paling belakang sebagai sweeper dan membawa beberapa snack untuk bekal summit. Sayangnya kami cuma membawa satu liter air yang ternyata kurang wkwk jadilah berhemat sampai kembali ke area camp lagi. Jam menunjukkan pukul 10.50 kami sampai di sabana dengan ketinggian 3132 mdpl. 

Sabana

Sabana - Puncak Sindoro (5 menit)

Lanjut berjalan, dengan jalur yang landai beberapa bendera di puncak sudah terlihat sedari tadi kami di sabana. Setiap jalur di Sindoro mempunyai puncaknya masing-masing. Karena bentuk puncak dari gunung ini memutari kawah, jadi kita bisa melihat sepanjang tepi kawah terdapat bendera dari jalur pendakian yang berbeda-beda. Sampai mendekati bendera, angin bertiup sangat kencang. Berdiam diri terlalu lama dingin, mau bergerak tapi belum foto-foto 😆 haha begitu syulit. Kami hanya bertemu satu rombongan pendaki yang bersama kami dari camp area tadi. Selain itu, sepi. Puncak milik kita bersama 🥳 pukul 11.25 kami memulai perjalanan turun setelah sekitar 30 menit berada di puncak dan anginnya cukup membuat badan ngewel 🥶 

Puncak Sindoro 

Menuruni puncak dengan kondisi cerah pun nyasar, apalagi berkabut 🥴 ya kami sempat nyasar setelah turun dari ladang batu II, teman-teman yang berada didepan memilih jalur terlalu ke kiri sementara saya tetap berada di paling belakang dengan jarak agak jauh. Berhenti di percabangan kecil, saya membuka maps lewat hp Gettri yang masih ada sinyal. Beyooooooh, temen lak iki nyasar 😮‍💨 karena di maps jalur yang kami lalui justru memotong kompas menuju pos pendakian di basecamp lain. Akhirnya saya mengajak teman-teman untuk mengambil arah kanan sampai bertemu jalur yang seharusnya. Sekitar 10 menit berjalan, sampailah kami di jalur yang benar. Pffftttt. Kami melanjutkan perjalanan. 

Pukul 13.17 siang, kami sampai camp dengan selamat. Kami berencana segera turun, kemudian bergantian packing sambil menjemur baju dan perlengkapan yang basah karena hujan semalam. Puncak Sindoro masih terlihat cerah. Setelah selesai bongkar tenda dan lain-lain, kami turun sekitar jam 14.25. Kami berpamitan kepada tenda sebelah yang akan turun sore nanti. Berjalan pelan-pelan, kaki rasanya cukup pegal karena tanjakan yang hampir vertikal di puncak tadi 😵‍💫 saat turun, ternyata jalur sigedang ini indah kalo kita trekking di siang hari. 

Pos 3

Jam 15.13 sore, kami sampai di batas vegetasi. Istirahat sebentar, kami lanjut menyusuri kebun teh bersama sore yang cerah. Karena semalam kami naik pickup, jadi tidak tau arah turun dengan berjalan kaki. Kami mengikuti plang memutar jalan makadam 🤣 sampai di pos 2 kami mencoba turun lewat jalur kebun teh, kali ini masih benar. Sampai setelah pos 1, kami mengambil jalur yang salah dan sampai di kebun teh yang penuh lumut. Sebingung itu mau melangkah, entah berapa kali terpeleset dan jadi hiburan dijalan 😆 setelah cukup lelah jatuh dan baju sudah kotor, akhirnya kami memutuskan berjalan lewat makadam lagi. Ya walaupun jalurnya keras berbatu 😌 sekitar jam 16.30 sampailah kami di jalan raya Tambi didekat basecamp. Huft, untungnya tidak nyasar terlalu jauh karena mengikuti arah suara dangdut 😆

Pos 2
Pos 1

Setelah sampai di basecamp, kami beristirahat. Kalo ada yang berani mandi ya mandi 🤣 sore itu diisi dengan ngobrol, minum es teh dan makan gorengan yang dijual di warung basecamp. Pukul 18.00 saya dan tim memulai perjalanan turun. Karena lampu motor mati, jadilah kami pakai headlamp saat melewati jalur penuh kabut. Sesekali saya berteriak ketika berpapasan dengan kendaraan lain. Takut mereka tidak melihat keberadaan kami dan nabrak 😮‍💨 sesampainya di kota Temanggung, kami mencari bengkel untuk memperbaiki lampu motor. Sindoro, terimakasih cuaca cerahnya. See u again, aku suka kebun tehmu walaupun keceblok-ceblok 😆 babai 😍

You Might Also Like

0 komentar

Subscribe