Assalamualaikum sahabat literasi 🥺
Lama ga nulis karena belakangan ini cuma ke andong-andong aja jadi cerita yang mau ditampilkan sekedar pinus, monyet hitam dan ngangsu di mata air pos 3 sawit itu 😂
Cerita dimulai sejak memantau kapan gunung argopuro kembali buka dengan nada "when yh" dan akhirnya per bulan Mei argopuro kembali buka 😁 karena yang tutup itu pintu maafmu 😔 pendakian kali ini saya bersama crew warung alap-alap gunung andong Queen, Telo, dan Ali. Awalnya saya mau berangkat dengan kereta dan ketemu mereka disana tapi setelah berunding akhirnya kami memutuskan naik motor dari Solo sampai Situbondo yang ternyata jauh sekali itu 🤣 that setiap satu jam jalan kami break di indomaret, soalnya KDMP belum buka 😳
Sabtu, 8 Agustus 2026
Saya dijemput teman-teman di Stasiun Purwosari Solo, karena mereka berangkat dari salah tingkah Salatiga, sekitar jam 19.00 kami makan dulu di warteg kharisma bahari kemudian dengan maps memulai perjalanan. Melewati pusat cod Ngawi dan seterusnya 🤣 sekitar jam 01.00 dini hari tanggal 9 Agustus mata sudah sulit melek dan pundak pegel karena menggendong carrier lumayan berat. Kami berhenti di Mojokerto untuk menginap di sebuah masjid dan melanjutkan perjalanan esok hari. Tentu saja dengan sleeping bag di teras masjid 🤣 kami tidur bergantian dan tetap saja aku yang pertama ketiduran 😭
Karena kami tidur di masjid jadi adzan subuh terasa begitu kencang 🤣 kami bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan, sekitar jam 06.00 kami mampir sarapan nasi pecel di dekat masjid. Sepanjang jalan menuju Baderan, entah kenapa Pasuruan dan Probolinggo rasanya panjang sekali, penyesalan mulai menyelimuti sambil mikir pulangnya gimana 😭 selain karena cuaca yang begitu panas. Setibanya di Besuki, Situbondo sekitar jam 11.00 siang, kami mencoba ngemaps ke arah basecamp dan sebelum sampai daerah Sumbermalang, motor Ali kepanasan 😂 kami istirahat dulu di dekat gardu sambil mendinginkan mesin motor. Jam 13.00 akhirnya kami sampai di basecamp Baderan, suasana sepi kami hanya bertemu satu rombongan. Anyway biaya pendakian Argopuro 4 hari 3 malam di hari kerja ini sebesar Rp. 108.000 / orang. Basecamp Baderan ini berada terisolasi dari kota, rasanya kayak naik gunung kidul tapi disini letak dan suhunya lebih tinggi. Sore harinya, kami turun kembali ke Besuki untuk makan dan membeli logistik pendakian.
![]() |
Senin, 10 Agustus 2026
Dini hari beberapa pendaki mulai berdatangan, tampaknya kelompok pendaki lain ini menginap di sekitar basecamp. Setelah selesai mengurus simaksi di loket Baderan dan sarapan, kami memulai pendakian sekitar jam 08.00 diawali dengan menumpang ojek racing sampai mata air 1 seharga Rp. 155.000. Gokil sih ini jalur makadamnya pun terdiri dari bebatuan runcing 😭 tidak ada pilihan selain pegangan belakang motor bapak ojek. Waktu tempuh ojek 30 menit, kami sampai di mata air 1 dengan kondisi gemetar 🤣 dari sini terlihat tebing-tebing argopuro yang punya banyak air terjun tanpa nama. Wajar sih karena kemiringannya sampai 90° untuk sampai kesana pun rasanya sulit, saya pun tidak menyangka jalur ojeknya sebrutal tadi, respect sama temen-temen yang camp argopuro tidak ngojek dan temen-temen yang trail run ga ngojek 😵
![]() |
| portal |
Berangkat dari mata air 1 jalur masih cukup landai tapi berdebu, ya emang ga selandai di cerita orang-orang karena ada aja tanjakannya 😂 kami juga bersebelahan dengan ojek yang masih mengantar pendaki sampai portal, untuk tarif ojek sampai portal Rp. 180.000. Dari portal ini jalur mulai memasuki hutan yang cukup rindang, sampai sekitar 1 jam berjalan kami sampai di mata air 2. Lokasi ini cukup terbuka tapi teduh, letak mata air ada di arah kanan dan cukup terjal. Break pertama ini kami ngemil satu buah pear dibagi empat 😂
![]() |
| verbena brasiliensis :( |
Lanjut perjalanan jalur mulai bervariasi tapi masih dominan landai dan panjang, sambil terus menyusuri hutan baderan mulai terlihat sebuah tanah lapang kecil, yupp sampailah kami di alun-alun kecil. Cuaca cukup terik membuat payung uv berperan wkw kami istirahat dibawah pohon dekat plang alun-alun bersama teman-teman kelompok lain. Dari alun-alun kecil ini jalur kembali menyusuri sabana dan sesekali menembus hutan yang tidak begitu lebat, sekitar jam 12.00 siang sampailah kami di alun-alun besar, beneran sebesar itu, kayak jalan diantara pom-pom 😳
![]() |
| pompom |
Setelah alun-alun besar, tentu masih ada beberapa sabana lagi 😂 pokoknya jalur baderan ini full sabana. Jam 13.00 akhirnya sungai qolbu mulai terlihat 🥺 kami bertemu teman-teman Mapala Politeknik Pajajaran Bandung disini. Mereka sudah berangkat dari kemarin dan ga ngojek 😭 sampai kaki personilnya yang bawa galon melepuh, ga ngerti lagi kuat banget kayak bandung bondowoso 🙌
Di sungai qolbu ini banyak terdapat selada air, bahasa gawl nya jukut. Panen panen 🤣 otw menyaingi warung makan Bu Imas ini mah ☺️ setelah cukup mengambil beberapa untai jukut muda, kami mendirikan tenda dibawah pohon ditengah camp cikasur sambil bersiap-siap berkunjung ke shelter Tuan Ledeboer ✨ misi Tuan, ijin menginap dan melihat merak 🦚 sore mulai jam 17.00 sampai malam hari udara dingin mulai menusuk, erg koud! tapi milkyway membentang luas di atap sabana cikasur, butuh effort melawan suhu dingin seperti lirik lagu tak tekad-tekadke masiyo ora tau ngalami adhem mines siji..
![]() |
| sisa kejayaan Tuan Ledeboer |
Selasa, 11 Agustus 2026
Selamat pagi Cikasur, goedemorgen, meneer Ledeboer! mengawali pagi dengan sarapan bergizi tapi bukan MBG 🤣 jam 09.00 setelah selesai bongkar tenda dan packing, kami melanjutkan perjalanan ke sabana lonceng. Rute hari ini akan lebih panjang daripada day 1 kemarin. Keluar dari area cikasur, jalan berupa perbukitan, sabana, perbukitan, sabana gitu terus sampai akhir rezim ini, eh. Entah berapa sabana yang sudah kami lewati dan salip-menyalip dengan para porter yang mengawal tamunya. Kawasan pertama setelah sabana - hutan - sabana tadi adalah cisentor, disini terdapat sungai tapi infonya air di sungai ini sedikit bercampur belerang. Lah iya soalnya kalo bercampur kopi susu jadi latte #izin. Kami break cukup lama sekitar 1 jam untuk memasak nasi dan menggoreng lauk berupa sosis dan nugget.
Jam 13.30 kami mulai melanjutkan perjalanan kembali menuju rawa embik yang merupakan mata air terakhir sebelum puncak. Jalur menuju rawa embik didominasi tanjakan berbukit-bukit. Perkataan siapa argopuro landai 🙏 satu jam kemudian sampailah kami di rawa embik, sambil menunggu Telo dan Queen di belakang, saya ngobrol dengan porter-porter yang bercerita kalo camp di rawa embik ini merupakan lokasi yang paling dingin. Setelah mengambil air dengan beberapa botol dan derigen, kami lanjut perjalanan pada jam 15.00. Jalur setelahnya berupa sedikit sabana dan bersambung dengan melipir hutan yang cukup rapat. Mau berjalan cepat capek, mau jalan lambat ga sampe-sampe 😔 akhirnya sebelum udara berubah menjadi dingin yang sangat dingin, kami sampai di sabana lonceng jam 16.20. Segera kami dirikan tenda dibawah area pepohonan yang tertutup.
![]() |
| Telo, Queen, Ali, Milea |
Rabu, 12 Agustus 2026
Pagi hari di sabana lonceng, ada sebagian pendaki yang sudah summit duluan. Karena letak puncak Rengganis, Argopuro dan Hyang berdekatan dan tidak memakan waktu lama dari sabana lonceng, biasanya pendaki sekarang tidak membawa carrier untuk summit karena jalurnya yang begitu terjal. Kami memulai dengan sarapan bukan harapan, yeuh. Otw puncak rengganis dengan sebotol jasjus rasa jambu! Untuk sampai ke puncak rengganis jalurnya berupa vegetasi pohon dan melewati area bebatuan yang masih mengandung belerang. Cukup 10-15 menit saja untuk sampai, yey!
![]() |
| puncak rengganis |
Setelah turun dari puncak rengganis dan packing carrier masing-masing, kami melanjutkan perjalanan ke puncak Argopuro dan puncak Hyang. yang patah tumbuh yang hilang berganti. Sempat nyasar dikit kami diteriaki porter-porter 😂 jarak dari sabana lonceng ke puncak argopuro sebenarnya cuma 500 meter, tapi lumayan vertikal 🤣 butuh waktu sekitar 30 menit untuk sampai di puncak argopuro, kondisi puncak sepi cuma ada satu rombongan lain yang antri foto. Tidak berlama-lama kami lanjut ke puncak Hyang yang berjarak 370 meter dari puncak Argopuro, jalurnya cukup curam, pertama-tama kita harus menuruni bukit lanjut naik bukit lain yang berbatu. Di puncak Hyang juga sama sepinya bahkan cuma ada tim kami saat itu 😂 dari sini terlihat danau taman hidup yang begitu jauh dibawah sana dan kepulan erupsi dari gunung semeru.
![]() |
| puncak argopuro |
![]() |
| puncak hyang |
Jalur menuju taman hidup dari puncak hyang sangat terjal, sampai di beberapa tanjakan dipasangi tali. Selain itu juga debu yang tebal dan kanan kiri terdapat tanaman berduri jadi cukup beresiko untuk pegangan. Menuruni bukit pertama dari puncak, kita akan melewati sungai kering dan melipir kembali ke perbukitan lainnya. Sekitar 2 jam berjalan, sampailah kami di cemoro limo, kawasan sebelum hutan lumut dan taman hidup ((baru cemoro limo)) 😭 selepas cemoro limo kita kembali melipir perbukitan di sebelah kanan dengan tepian jurang dan di beberapa tempat juga turunannya sangat curam, bonus debu-debu gurun mesir 😂 saya sempat berpapasan dengan dua pendaki dari Sulawesi yang cuma 3 hari 2 malam di gunung argopuro ini. Jadi mereka tidak menginap di danau taman hidup melainkan langsung turun ke Bremi.
![]() |
| C5 |
Cukup lama berjalan dengan tertatih karena dehidrasi dan akumulasi overtraining, saya bertemu kembali dengan mapala Politeknik Pajajaran Bandung di hutan lumut. Jalur hutan lumut ini sangat asri dan landai, tapi kalo jalan sendiri ya lumayan serem, untung siang-siang 🤣 sekitar jam 14.00 akhirnya kami sampai di tempat camp terakhir, Danau Tiberias Taman Hidup. Kami mendirikan tenda di bagian tepi danau paling belakang, bersebelahan dengan tenda tetangga dari Bandung bernama Mas Yazid dan temannya. Sore di taman hidup, Mas Yazid berbaik hati mendokumentasikan saya di dermaga danau, maklum device kurang mendukung 🤣 kalo ngga kamera blur ya video gempa bumi 😭
![]() |
Kabut menyelimuti permukaan danau nampaknya suhu semalam begitu dingin sampai rumput sekitar danau membeku, bahkan tenda teman-teman Surabaya yang ada tepat di muka danau pun menjadi es 😂 usai numpang ngopi dan secangkir energen, saya kembali ke tenda dan mulai packing karena berencana turun duluan daripada teman-teman untuk mengejar bus ke Stasiun Probolinggo. Fyi dari Bremi ada beberapa jadwal bus ke Kota Probolinggo dimulai dari jam 06.00, 09.00, 11.00, 13.00 dan terakhir 15.30 (waktu Indonesia Bremi) sementara teman-teman tim saya kembali ke Baderan untuk mengambil motor dan pulang ke Salatiga dengan mengendarai motor.
Berbekal setengah botol air danau tanpa filter yang keruh itu 🤣 saya turun jam 08.00. Di jalur Bremi ini terdapat ojek untuk turun dimulai dari pos 3 sampai pos 1 dimana setiap pos nya bertarif Rp. 50.000. Jalur awal turun kita kembali ke arah hutan lumut yang ada pertigaan plang danau taman hidup dan Bremi, ternyata benar kata tetangga, jalur awal didominasi dengan tanjakan 🤣 yaa walaupun cuma sedikit tapi kalo udah lowbat kerasa juga wkw trek Bremi ini full hutan dan cukup curam, tapi tidak seberdebu Baderan. Jalur bercabang dan bertemu di titik yang sama. 30 menit berjalan, sampailah saya di pos 4. Plang pos 4 ditempel di sebuah pohon. Tidak jauh dari situ, tiba-tiba ada porter sekaligus ojek Bremi yang biasanya menawarkan jasanya kepada pendaki di taman hidup. Akhirnya porter tersebut menemani saya turun sampai pos 3 sekaligus menjadi ojek dari pos 3 sampai basecamp Cak Arifin Bremi. Meskipun mungkin beliau kesal karena downhill saya lambat 😂
Kurang dari satu jam sampailah saya di pos 3 Bremi, tanpa pikir panjang saya mengiyakan ojek dari pos 3 sampai basecamp. Sebenarnya rute pos 3 kebawah ini sudah tidak seterjal pos 3 ke atas, tapi trail run kok ngojek, praaankkk! 😂 ojek Bremi ini jujur tidak se-barbar ojek Baderan karena jalurnya tidak se-ekstrim Baderan. Dari kejauhan sambil naik ojek, tampak di depan mata Gunung Lemongan yang juga merupakan batas Dataran Tinggi Hyang. Puncak Gunung Argopuro juga tampak begitu jauh dan berbukit-bukit, sambil berkata dalam hati "sekali saja" ✌ 30 menit kemudian, sampailah saya di basecamp Cak Arifin disusul teman-teman porter dan yang lainnya. Mapala Bandung juga datang sore harinya, karena Cak Arifin mengasihani saya yang pulang sendiri jadi beliau menyarankan untuk menginap di basecamp saja dan pulang esok hari bersama teman-teman Mapala Bandung.
Jumat, 14 Agustus 2026
Pagi sekali teman-teman Mapala Bandung bisa-bisanya mandi air dingin 😭 padahal aku sendiri mandi kemarin sore pun request air hangat ke ibu basecamp. Emang beda mentalitas 😂 jam 06.00 bus datang tepat di depan basecamp Cak Arifin dengan tarif per orang Rp. 31.000, kami bersama-sama berangkat ke Stasiun Probolinggo. 1,5 jam perjalanan sampailah bus di pangkalan Probolinggo. Kami lanjut perjalanan ke stasiun dengan angkot Rp. 15.000/orang. Vibesnya kayak nyewa angkot, semua carrier diikat diatas angkot, seru ih rombongan hadroh berangkat 😂 tidak jauh dari pangkalan bus, kami sampai di depan stasiun probolinggo yang berhadapan dengan alun-alun. Kami mencari sarapan dan menunggu jadwal kereta, saya jam 10.12 sementara teman-teman mapala jam 11.30. Till we meet again yah semua beserta kehidupan di taman hidup 🌼



























