Kembali melangkah; Gunung Api Purba

August 02, 2020


Semesta selalu punya caranya untuk bekerja, beristirahat. Termasuk beberapa bulan ini dimana semua yang awalnya bergerak harus sementara berhenti, yang biasanya melaju harus berdiam dan mengerjakannya dari rumah, dari tempat yang tidak menimbulkan resiko penyebaran virus covid. Dunia seperti mempause kesehariannya, jalanan yang biasanya 24 jam penuh aktifitas seolah lengang. Ya inilah yang terjadi pada bumi kita sekarang ini. Kita tidak bisa memastikan kapan pandemi ini berakhir, tapi kita bisa berusaha untuk melindungi diri sendiri, keluarga, dan orang-orang yang kita sayang.

Pun yang terjadi di kota saya, Yogyakarta. Kasus masih terus bertambah, meskipun sempat reda tapi tidak semestinya membuat kita lengah. Walaupun tubuh ini rasanya kaku karena kurang olahraga, tapi saya setuju dengan belum dibukanya pariwisata secara meyeluruh. Belum dibukanya seluruh gunung untuk umum, kalaupun memang ada yang sudah uji coba untuk pembukaan jalur, harus menerapkan protokol kesehatan yang baru demi mencegah virus yang menusuk dadamu ~ skip.

Minggu, 2 Agustus 2020 saya bersama Rahmawati mencoba melakukan pendakian ke sebuah bukit di Yogyakarta. Namanya Gunung Api Purba Nglanggeran, gunung ini merupakan suatu gunung api purba yang terbentuk sekitar 60-70 juta tahun yang lalu atau yang memiliki umur tersier. Gunung Nglanggeran memiliki batuan yang sangat khas karena didominasi oleh aglomerat dan breksi gunung api. (Wikipedia). Oke umur gunung api purba ini lebih dari umurku, umur kamu, bahkan umur hubungan kita yang cuma beberapa tahun dan sudah tiada WKWK 👋

Jalur pendakian

Sampai di tempat registrasi, kami membayar biaya masuk kawasan Nglanggeran Rp. 15.000 / Agustus 2020. Sebelum registrasi pada hari sebelumnya saya melakukan reservasi terlebih dahulu melalui website gunungapipurba.com untuk mendapatkan kuota, karena dimasa uji coba ini pendakian Gunung Api Purba dibatasi 500 orang per harinya dan ditutup / libur setiap hari Senin. Setelah menunjukan bukti order dan menyelesaikan pembayaran, kami mulai mendaki sekitar pukul 10.00 WIB. 

Hanya kami berdua yang mendaki pagi ini disusul beberapa anak seusia Dilan yang berjalan cukup jauh dibelakang kami, awal mula perjalanan jalur berupa tangga batu yang disusun sedemikian rupa, lebih seperti tempat wisata kalo menurut saya, tapi dibuat jalur seperti ini juga untuk mempermudah perjalanan menuju puncak, coba saja kalo tidak dibuat tangga, mau merambat seperti ratu laba-laba pada film kera sakti? Padahal aku dan kamu blas gk sakti WKWK 😂
Jalur bebatuan rapih dilewati sekitar 15 menit ada juga spot dimana terdapat tangga yang terbuat dari kayu-kayu dan jalur lorong sempit yang kita gk bisa lewat kalo gandengan hahaha 😅

Gk usah gandengan y 😆
Sekitar setengah jalan terdapat saung dan jalur mulai berupa tanah, suhu udara tidak terlalu dingin dan angin berhembus cukup menyegarkan jiwamu yang hampa 😆 disini juga terdapat percabangan jalur turun one way, jadi saat turun nanti kita bisa melalui jalur yang lain. 

Sebelum sampai puncak, terdapat camp ground. Karena di puncak terdiri dari bebatuan jadi untuk berkemah tidak bisa dilakukan di puncak. Dan juga untuk sementara waktu uji coba ini tidak diperkenankan camp, pendakian diperbolehkan hanya untuk kamu tektok saja. 

Camp ground
Sekitar 30 menit berjalan, sampailah kami di puncak Gunung Api Purba. Jalur naik ke puncak juga berupa tangga kayu, di puncak terdapat bendera merah putih yang berkibar pertanda itu adalah titik tertingginya. Kondisi puncak hanya ada dua orang dan kami bergantian mengambil foto sambil ngemil keripik pedas dan cokelat. Oh iya masyarakat, usahakan kalo ingin kesini membawa bekal air minum dan makanan sesuai kapasitas kalian. Saat dilakukannya pendakian ini hanya ada satu warung yang buka itupun di jalur turun one way. 


View  Embung Nglanggeran
Cukup lama kami menghabiskan waktu di puncak sekedar menikmati sembribit angin Gunungkidul dan melihat pemandangan yang ada, dari puncak terlihat embung Nglanggeran yang juga masih berada satu kawasan dengan Gunung Api Purba.
Kami mulai turun sekitar pukul 12.00 bergantian dengan pengunjung lain yang datang, jalur turun juga aman karena sudah dibuat trek tangga dan dibeberapa spot terdapat pegangan dari besi.


Jalur turun
Sesampainya di pemukiman, terdapat beberapa kebun yang ditanami pohon cokelat, dari informasi yang kami terima memang cokelat disini dibudidayakan oleh petani lokal untuk diolah dan dijual.
Setelah menemui jalan aspal kami sampai kembali ketempat registrasi, di tempat registrasi juga disediakan tempat cuci tangan, diharuskan memakai masker, dan dicek suhu tubuh sebelum mendaki. Kami juga membawa hand sanitizer sendiri selama perjalanan ke puncak tadi, berani kotor memang baik tapi tidak harus kemproh kan? 😆
Baiklah sedikit cerita ini yang bisa saya bagikan, semoga kamu dan orang-orang yang kamu sayang (itu aku) sehat selalu. Jangan lupa untuk share, komen, like eits salah lapak Bambank. Stay safe, stay healthy, and stay with me 😹

You Might Also Like

0 komentar

Subscribe