Pendakian Gunung Kembang via Blembem
August 17, 2018
Merdekaaaaaa !!! ❤
Dirgahayu Republik Indonesia yang ke 73 semoga semakin jaya sentosa dan selalu berpedoman Pancasila ✊
Pada libur yang singkat ini saya akan membagikan cerita pendakian Gunung Kembang, yhaa mungkin masih sangat jarang didengar, Gunung Kembang yang belum se-populer Sindoro Sumbing atau Merapi Merbabu. Gunung Kembang merupakan anak dari Gunung Sindoro dengan ketinggian 2340 mdpl. Jalur yang kami pilih untuk mendaki Gunung Kembang adalah Blembem Desa Damarkasihan Kecamatan Kertek Kabupaten Wonosobo Jawa Tengah. Kali ini saya bersama Gettri menyanyi mendaki solo saja dan kami sengaja tektok untuk mempersingkat waktu. Pendakian Gunung Kembang bisa dilakukan dengan tektok ataupun camp. Estimasi waktu dari basecamp sampai puncak adalah 3 jam. Jalur pendakian yang baru dibuka pada Bulan April 2018 ini merupakan bekas gedung pabrik teh Blembem yang dialih fungsikan. Masih terlihat jelas dari bentuk bangunan dan plakat yang tertempel. Di sekitar Blembem ini masyarakat membudidayakan daun teh. Sepanjang mata memandang kita dapat menikmati hamparan teh yang sangat luas. Jadi, kapan ngeteh bareng? Wkwk skip.
![]() |
Gunung Kembang |
17 Agustus 2018
Pukul 08.00 kami berangkat menuju basecamp Blembem dari Sleman Yogyakarta. Perjalanan kami tempuh melalui rute Borobudur-Salaman-Kepil-Sapuran dilanjutkan sampai di Pasar Kertek. Setelah sempat menghubungi pihak Basecamp saya diberi share loc dimana basecamp berada, namun apalah daya, kami nyasar sampai jalan kecil yang sulit dilalui kendaraan wkwk. Dari situ kami bertemu seorang bapak-bapak yang memberitahu kami bahwa letak basecamp Gunung Kembang sangat sulit jika lewat jalan yang kami lalui sekarang. Maturnuwun Pak, nasi belum menjadi sekam eh bubur wkwk. Kami pun memutar balik Alex (nama motor saya) dan mengandalkan malu bertanya nggak akan jadian sesat dijalan, dengan petunjuk akamsi kami pun menuju Pasar Kentang Wonosobo dan di seberang pasar Kentang tinggal ikuti jalan menanjak sampai di pertigaan lalu tidak jauh dari situ ada satu-satunya bangunan berpagar yang digunakan sebagai basecamp pendakian Gunung Kembang. Pukul 11.00 kami sampai di basecamp dan stalking, yaelah 😂 bertanya-tanya pada pihak basecamp tentang jalur pendakian. Tarif pendakian Gunung Kembang (Agustus 2018) Rp. 15.000 dan biaya parkir 1 motor Rp. 5000. Fasilitas yang kita dapat di basecamp adalah free mushola, toilet dan charger. Sebelum memulai pendakian kami mencari makan terlebih dahulu, tidak jauh dari basecamp ada sebuah warung yang menjual mie ayam, bakso, soto dan beberapa minuman seperti teh, susu dan kopi. Cukup lama kami menghabiskan waktu di warung sampai pukul 12.00 barulah kami memulai pendakian.
![]() |
Basecamp Blembem |
Basecamp - Gerbang 290 (60 menit)
Jalur yang dilalui mula-mula adalah kebun teh, sepanjang jalan kita akan disuguhi hamparan teh khas Blembem dan disitu i feel tea, bzzzz apaan sih. Ada plang petunjuk kecil berwarna merah yang dipasang sepanjang jalan di kebun teh. Karena menurut saya jalur pendakian kebun teh itu cukup membingungkan, apalagi saat pendakian malam dan kabut turun.
![]() |
Teh dimana-mana |
Sambil sesekali mengambil foto perkebunan teh yang ciamik ini kami bertemu dengan dua rombongan pendaki yang turun, dilihat dari keril yang mereka bawa pasti mereka sehabis camp. Saran saya adalah usahakan pendakian di Gunung Kembang ini dilakukan pada saat hari masih terang dan untuk pendakian tektok bisa dilakukan sepagi mungkin. Karena melewati kebun teh pada siang hari akan cukup membuat panas dalam. Setelah mengikuti anak panah yang dipasang dan melewati kebun teh berbukit-bukit yang rasanya ora uwis-uwis wkwk sampailah kami di istana katak 1555 mdpl. Istana katak merupakan bangunan yang berada di tengah-tengah perkebunan teh yang bisa digunakan untuk berteduh sebentar sebelum melanjutkan perjalanan.
![]() |
Istana Katak |
Masih menyusuri kebun teh, hampir satu jam lamanya kami berjalan diiringi canda tawa receh dan dari jauh terlihat sebuah spanduk, entah kalo sudah dekat akan berubah atau tidak 😄 dan setelah mendekatinya sampailah kami di Gerbang 290 dengan ketinggian 1688 mdpl pada pukul 13.00. Gerbang ini adalah batas akhir perkebunan teh dan awal masuk hutan Gunung Kembang.
Keluar dari kebun teh dan memasuki area hutan, jalur berupa tanah cukup lembab karena sedikitnya sinar matahari yang bisa masuk menembus pepohonan. Tapi untuk pemula saya rasa cukup baik melatih pendakian di Gunung Kembang ini. Jalur menuju pos 1 masih bersih dan asri, jadi jangan tinggalkan sampah barang sedikit! pada tiket pendakian juga tertera BUANG SAMPAH SEMBARANGAN DENDA Rp. 1.025.000 memang saya rasa harus diberi ketegasan seperti itu supaya pengunjung tidak sembarangan mengotori gunung 😎 Jalur masih cukup enak di kaki dan jarak dari pos ke pos juga tidak terlalu jauh.
![]() |
Jalur menuju pos 1 |
Tidak beberapa lama kemudian, sampailah kami di pos 1. Pos 1 atau dinamakan Liliput berada pada ketinggian 1792 mdpl dengan area landai yang bisa digunakan untuk istirahat.
![]() |
Pos 1 |
Pos 1 - Pos 2 (15 menit)
Melanjutkan perjalanan menuju pos 2 pukul 13.30 jalur yang dilalui masih sama berupa hutan dengan kombinasi jalur yang kadang landai tapi banyak rindunya nanjaknya 😆 jalur di dalam hutan Gunung Kembang ini cukup jelas, tidak ada persimpangan yang membingungkan tapi sepanjang jalan tidak ada mata air yang kita temukan. Jadi sediakan air secukupnya sesuai waktu pendakian dan personil yang dibawa. Sesekali kami berjumpa dengan pendaki yang turun, hampir tidak ada yang naik bersama kami sejak tadi wkwk kok sepi. Pendakian ini santai saja dan kami isi dengan obrolan yang tidak berfaedah. Yhaa bisa dimaklumkan usia remaja 👼 Tidak terasa beberapa saat kemudian kami sampai di pos 2. Pos 2 mempunyai ketinggian 1849 mdpl bernama simpang 3. Entah simpangnya di sebelah mana saya tidak tahu wkwk, kami istirahat sekitar 3 menit saja dan kembali berjalan.
![]() |
Pos 2 |
Pos 2 - Pos 3 (11 menit)
Menuju pos 3 hutan masih mendominasi jalur, belum nampak ujung bukit atau batas vegetasi. Sesekali berharap pohon tertinggi yang saya lihat adalah ujung hutan ini, tapi realitanya kami masih akan menyusuri hutan sampai pos 4 atau sabana. Hikmah dari jalan ini adalah berharap boleh, keGRan jangan wkwk 😁 Trek masih nyaman untuk dilalui sambil sesekali terdengar suara lebah yang dari gerbang tadi mengikuti kami, mungkin dimata lebah itu kami ada manis-manisnya 🐝 sambil berdoa agar dijauhkan dari binatang buas, yaa lebah termasuk buas kalo sampai menyengat kecuali lebah Hachi ya Hachi anak yang sebatang kara, lah kok jadi nyanyi 🐝 sampailah kami di Pos 3. Pos 3 ini bernama akar memiliki ketinggian 1938 mdpl.
![]() |
Pos 3 |
Pos 3 - Pos 4 (35 menit)
Setelah beberapa menit break di pos 3 kami melanjutkan jalan ke pos 4. Dari pos 3 ini jalur mulai kombinasi dengan tanah kering karena di beberapa tempat terdapat celah untuk sinar matahari masuk ke dalam hutan. Jadi persiapkan masker dan kacamata, karena jalur selanjutnya juga lebih-lebih 😬 Tanjakan menuju pos 4 juga lebih banyak dari pos-pos sebelumnya, jarak menuju pos 4 adalah 75 meter, bisa dibilang terjauh setelah basecamp sampai gerbang 😌 Jalur yang awalnya didominasi hutan lebat mulai terang dan berganti vegetasi. Pukul 14.35 kami sampai di Pos 4 yang bernama Sabana. Pos 4 ini berada pada lahan yang miring dengan ketinggian 2013 mdpl. Kami beristirahat cukup lama disini sambil ada beberapa rombongan pendaki yang turun dan memberikan harapan bahwa puncak tinggal 15 menit lagi. Duh bang bisa baeeee ~
![]() |
Pos 4 |
Pos 4 - Pos 5 (5 menit)
Pukul 15.00 kami melanjutkan perjalanan ke Pos 5. Dengan harapan yang kuat tekad bulat dan nyali sekarat wkwk saya yakin puncak bisa dicapai dalam waktu 15 menit. Dan benar saja pos 5 tidak jauh dari pos 4 hanya berjarak 5 menit saja dengan vegetasi terbuka dan tanjakan berdebu yang aduhai apabila ada pendaki turun. Pos 5 mempunyai ketinggian 2243 mdpl dengan nama tanjakan mesra. Mungkin next time mas-mas basecamp bisa membuat karya dengan judul filosofi tanjakan mesra ❤ Kami tidak break, langsung saja meneruskan perjalanan menuju puncak.
![]() |
Pos 5 |
Pos 5 - Puncak (11 menit)
Pukul 15.05 kami terus saja berjalan mengejar melawan terik matahari beradu dengan sepatu yang solnya mulai menipis dan debu yang selalu ada 😀 Seusai tanjakan mesra tadi, kita bisa melihat view Gunung Sumbing di seberang kami mendaki. Cukup mengobati lelah dan memunculkan harapan asli, bukan palsu 😂 untuk sebentar lagi menuju puncak. Cuaca cukup cerah saat itu, walaupun disisi lain kabut mulai naik dan kebun teh serta Kecamatan Kertek sudah tidak terlihat lagi. Kami mempercepat langkah daaaaaaaaan Puncak 2340 !! plakat adalah semangat 💥 terlihat jelas didepan mata plakat puncak Gunung Kembang. Yahahaaaa finally, sampailah kami di puncak pada pukul 15.16 meleset satu menit dari estimasi tapi it's okay. Dari puncak Gunung Kembang ini terlihat di seberang Gunung Sindoro beserta bukit-bukit yang memperkuatnya. Di bawah Gunung Kembang ini ada sebuah bukit yang menghubungkan antara Gunung Kembang dengan Gunung Sindoro, semacam connect gitu ☺
![]() |
Puncak Gunung Kembang |
![]() |
✌ |
![]() |
Sist and Bro, Sindoro dan Sumbing |
Tidak lama kami berada di puncak, kami segera turun mengingat jarak antara Wonosobo dan Jogja cukup jauh dan WSB sedang dingin-dinginnya 😑 Jalur turun menuju pos 4 sangat berdebu, 90% jalan saya habiskan dengan merosot wkwk sampai baju abu-abu yang saya pakai berubah menjadi debu ~ Pukul 15.30 kami mulai turun dari pos 4. Setidaknya kalau sudah sampai pos 3, jalur cukup lega karena berupa tanah padat dan tidak berdebu. Kami lanjut saja menuruni hutan dan break cukup lama di Gerbang 290. Pukul 17.00 kami melanjutkan perjalanan turun melewati hamparan teh, jadi saya rasa slogan warga Blembem adalah tea for lyfe ~ wkwk. Sepanjang perjalanan turun kami menemui tiga rombongan pendaki yang baru saja naik, dan pendaki jaman milenium selalu punya cara untuk spik-spik seperti "Mbak, boleh minta tolong" setelah kamu menjawab apa maka dia akan menjawab lagi "tolong semangatin aku dong" wkwk bibit komedian ada padamu mas (batinku).
![]() |
Turun For Lyfe~ |
Senja mengiringi perjalanan kami, tanpa Hachi lagi ya 😄 sesekali kebun teh diselimuti kabut cukup pekat dan tampak siluet matahari terbenam di tempat yang jauh sana, kami berhati-hati menuruni kebun teh karena hari mulai gelap dan ikan bobok. Sekitar pukul 18.00 pada saat adzan maghrib, sampailah kami kembali di basecamp Blembem. Kami lanjut membersihkan diri dan bersiap-siap pulang. Pukul 19.00 kami pamit dari basecamp untuk pulang menuju Jogja, kali ini kami melewati jalan Kledung Pass yang ternyata benar sedang dingin-dinginnya. Dan pukul 21.30 sampailah kami di home sweet home dengan selamat, sentosa dan masih hari merdeka 🔊
Tunggu cerita perjalanan selanjutnya yaa, hanya di Volcanote Indonesia 😁
0 komentar